Senin, 14 Juni 2010

PENDAHULUAN

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Tulisan ini akan membahas mengenai pengertian evaluasi kurikulum, pentingnya evaluasi kurikulum dan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan evaluasi kurikulum.

Selama ini model kurikulum yang berlaku adalah model kurikulum yang bersifat akademik. Kurikulum yang demikian cenderung terlalu berorientasi pada isi atau bahan pelajaran. Berdasarkan hasil beberapa penelitian ternyata model kurikulum yang demikian kurang mampu meningkatkan kemampuan anak didik secara optimal. Hal ini terbukti dari rendahnya kualitas pendidikan kita dibandingkan dengan negara lain. Sebagai contoh bahwa di beberapa negara Asean menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada tingkat terendah, untuk mata pelajaran matematika berada pada urutan ke 32 pada tingkat SLTP. Bukti ini hanya sebagian kecil saja dari keterpurukan output pembelajaran yang selama ini dikembangkan berdasarkan kurikulum akademik yang berlaku.

Dampak lain dari implementasi kurikulum akademik ini ternyata tidak mampu memberikan nilai etika, moral, dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan siswa dimanapun ia berada. Maka jika dievaluasi kira-kira mata pelajaran apa yang lemah dalam aspek kurikulumnya, maka diantaranya adalah pelajaran PPKn dan Agama.

Berdasarkan fenomena tersebut, maka inovasi kurikulum melalui KBK sudah mulai dilakukan untuk menghindari keterpurukan lebih jauh. KBK setidaknya membekali kompetensi paling dasar atau paling tidak memberikan esensi pokok dari setiap mata pelajaran, dengan demikian diharapkan mampu memberikan pengalaman nyata bagi kehidupan anak secara nyata dan langsung dirasakan sehari-hari. Pada bahasan selanjutnya penulis ingin mengembangkan tulisan mengenai evaluasi kurikulum KBK.



ISI

A. Pengertian Evaluasi Kurikulum

Pemahaman mengenai pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang bervariasi menurut para pakar kurikulum. Pengertian evaluasi menurut joint committee, 1981 ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa obyek. Purwanto dan Atwi Suparman, 1999 mendefinisikan evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang suatu program. Rutman and Mowbray 1983 mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Chelimsky 1989 mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Sedangkan pengertian kurikulum adalah :

a. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

b. Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan.).

c. Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi (Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa);

d. Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

Dari pengertian evaluasi dan kurikulum di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manfaat, kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan.

Evaluasi kurikulum ini dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut.Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuannya. Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direvisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru.

Fokus evaluasi kurikulum dapat dilakukan pada outcome dari kurikulum tersebut (outcomes based evaluation) dan juga dapat pada komponen kurikulum tersebut (intrinsic evaluation). Outcomes based evaluation merupakan fokus evaluasi kurikulum yang paling sering dilakukan. Pertanyaan yang muncul pada jenis evaluasi ini adalah “apakah kurikulum telah mencapai tujuan yang harus dicapainya?” dan “bagaimanakah pengaruh kurikulum terhadap suatu pencapaian yang diinginkan?”. Sedangkan fokus evaluasi intrinsic evaluation seperti evaluasi sarana prasarana penunjang kurikulum, evaluasi sumber daya manusia untuk menunjang kurikulum dan karakteristik mahasiswa yang menjalankan kurikulum tersebut.5

B. Pentingnya Evaluasi Kurikulum

Penulis setuju dengan pentingnya dilakukan evaluasi kurikulum. Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya, yang mana informasi ini sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah.

Evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai area – area kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan menuju yang lebih baik. Evaluasi ini dikenal dengan evaluasi formatif. Evaluasi ini biasanya dilakukan waktu proses berjalan. Evaluasi kurikulum juga dapat menilai kebaikan kurikulum apakah kurikulum tersebut masih tetap dilaksanakan atau tidak, yang dikenal evaluasi sumatif.

C. Konsep Evaluasi Kurikulum

Dalam memahami pelaksanaan evaluasi kurikulum, maka sebelumnya penulis ingin mengetengahkan konsep dari evaluasi itu sendiri. Menurut Guba dan Lincoln bahwa Evaluasi dinyatakan sebagai suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai- dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaaan atau sesuatu kesatuan tertentu. Evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk menentukan nilai atau efektivitas suatu kegiatan dalam membuat keputusan tentang program kurikulum. Evaluasi sistem kurikulum berkaitan dengan manajemen kurikulum yang dimulai dari tahap input evaluation, process evaluation, output evaluation dan outcomes evaluation. Bertujuan untuk mengukur tercapainya tujuan dan mengetahui hambatan-hambatan dalam pencapaian tujuan kurikulum, mengukur dan membandingkan keberhasilan kurikulum serta mengetahui potensi keberhasilannya, memonitor dan mengawasi pelaksanaan program, mengidentifikasi masalah yang timbul, menentukan kegunaan kurikulum, keuntungan, dan kemungkinan pengembangan lebih lanjut, mengukur dampak kurikulum bagi kinerja TKPD (Bushnell dalam Harris dan Desimone: 1994). Evaluasi merupakan kebutuhan dan mutlak diperlukan dalam suatu sistem kurikulum, karena berkaitan langsung dengan setiap komponen dalam sistem instruksional, dalam seluruh tahapan disain, dan pengembangan kurikulum. Asumsi dasar yang digunakan dalam evaluasi kurikulum dapat berupa spesifik yang ditujukan kepada pengukuran potensi dan kinerja manusia dalam hal ini tenaga kependidikan.
Dari pendapat di atas, maka da dua pokok yang menjadi karakteristik evaluasi, yaitu:

1. evaluasi merupakan suatu proses atau tindakan. Tindakan tersebut dilakukan untuk memberi makna atau nilai sesuatu. Dengan demikian evaluasi bukanlah hasil atau produk;
2. evaluasi berhubungan dengan pemberian nilai atau arti. Artinya berdasarkan hasil pertimbangan evbaluasi apakah sesuatu itu mempunyai niai atau tidak. Dengan kata lain evaluasi dapat menunjukkan kualitas yang dinilai.
Konsep nilai dan arti dalam suatu evaluasi kurikulum memiliki makna yang berbeda. Pertimbangan nilai adalah pertimbangan yang ada dalam kurikulum itu sendiri. Dalam arti apakah program dalam kurikulum itu dapat dimengerti oleh guru atau tidak. Sedangkan konsep Arti berhubungan dengan kebermaknaan suatu kurkulum. Misalnya apakah kurikulum yang dinilai memberikan arti untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa, apakah kurikulum itu dapat merubah cara belajar siswa kepada yang lebih baik.

Dari hasil evaluasi kurikulum dan hubungannya dengan konsep nilai dan arti ini bisa terjadi evaluator menyimpulkan bahwa kurikulum yang dievaluasi itu cukup sederhana dan dimengerti guru akan tetapi tidak memiliki arti untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Sebaliknya, kurikulum yang dievaluasi itu memang seikit rumit untuk dioterpkan oleh guru akan tetapi memiliki nilai yang berarti untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Menurut ahli kurikulum diantaranya Oliva (1988), menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah berakhir, meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi. Maka evaluasi itu sendiri merupakan bagian yang terintegrasi dalam suatu proses pengembangan kurikulum. Rumusan tentang tujuan evaluasi dikemukakan oleh Purwanto an Atwi (1999: 75) yaitu: (1) Mengukur tercapainya tujuan dan mengetahuai hambatan-hambatan dalam pencapaian tujuan kurikulum, (2) Mengukur dan membandingkan keberhasilan kurikulum serta mengetahui potensi keberhasilannya, (3) Memonitor dan mengawasi pelaksanaan program, mengidentifikasi permasalahan yang timbul, (4) Menentukan kegunaan kurikulum, keuntungan, dan kemungkinan pengembangannya lebih lanjut, (5) Mengukur dampak kurikulum bagi peningkatan kinerja SDM.
Kurikulum dapat dipandang dari dua sisi, pertama, kurikulum sebagai suatu program pendidikan atau kurikulum sebagai suatu dokumen; kedua, kurikulum sebagai suatu proses atau kegiatan. Dalam proses pendidikan kedua sisi ini sama pentingnya, seperti dua sisi dari satu mata uang logam. Evaluasi kurikulum haruslah mencakup kedua sisi tersebut, baik evaluasi terhadap kurikulum yang ditempatkan sebagai suatu dokumen yang dijadikan pedoman juga kurikulum sebagai suatu proses, yakni implementasi dokumen secara sistematis.

Jika melihat KBK, maka sudah memiliki beberapa komponen pokok yaitu kompetensi, pengalaman, strategi pembelajaran dan media, rencana evaluasi keberhasilan. Berikut adalah keatan evaluasi terhadap kurikulum:

A. Evaluasi tujuan dan kompetensi yang diharapkan dicapai oleh setiap anak yang sesuai dengan visi dan misi lembaga.
Dalam evaluasi kurikulum seperti ini maka pokok yang akan dinilai adalah aspek tujuan atau kompetensi yang diharapkan dalam dokumen kurikulum, yaitu mencakup :

a. Apakah kompetensi yang harus dicapai oleh setiap anak didik sesuai dengan misi dan visi sekolah.

b. Apakah tujuan dan kompetensi itu mudah dipahami oleh setiap guru. Sebagai suatu dokumen, kuriulum tidak akan memiliki makna apa-apa tanpa diimplementasikan oleh guru. Maka guru perlu memahami mengenai kompetensi yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.

c. Apakah tujuan dan kompetensi dirumuskan dalam kurikulum sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

B. Evaluasi terhadap pengalaman belajar yang direncanakan.
Kriteria yang dijadikan patokan dalam tahap ini yaitu menguji pengalaman belajar diantaranya :

a. Apakah pengalaman belajar yang ada dalam kurikulum sesuai atau dapat mendukung pencapaian visi dan misi lembaga pendidikan?

b. Apakah pengalaman belajar yang direncanakan itu sesuai dengan minat siswa.

c. Apakah pengalaman belajar yang direncanakan sesuai dengan karakteristik lingkungan di mana anak tinggal.

d. Apakah pengalaman belajar yang ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan jumlah waktu yang tersedia.

C. Evaluasi terhadap strategi belajar mengajar.
Sebagai suatu pedoman bagi guru, kurikulum juga seharusnya memuat petunjuk sehingga bagamana cara pelaksanaan atau cara mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Sejumlah kriteria yang dapat diajukan untuk menilai pedoman strategi belajar mengajar, diantaranya:

a. Apakah strategi pembelajaran dirumuskan sesuai dan dapat ,mendukung untuk keberhasilan pencapaian kompetensi pendidikan.

b. Apakah strategi pembelajaran yang diusulkan dapat mendorong aktivitas dan minat siswa untuk belajar?

c. Bagaimanakah keterbacaan guru terhadap pedoman pelaksanaan strategi pembelajaran yang disusulkan?

d. Apakah strategi pembeljaran sesuai dengan tingkat perkembangan siswa?

e. Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan sesuai dengan alokasi waktu.

D. Evaluasi terhadap program penilaian
Kompoenen berikutnya adalah komponen yang harus dijadikan sasaran penilai terhadap kurikulum sebagai suatu program adalah evaluasi terhadap program penilaian. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan yaitu :

a. Apakah program evaluasi relevan dengan tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai.

b. Apakah evaluasi diprogramkan untuk mencapai fungsi evaluasi baik sebagai formatif maupun sumatif.

c. Apakah program evaluasi kurikulum yang direncanakan dapat mudah dibaca dan dipahami oleh guru.

d. Apakah program evaluasi bersifat realistios, dalam arti mungkin dapat dilaksanakan oleh guru.

E. Evaluasi terhadap implementasi kurikulum
Sisi kedua dari kurikulum adalah pelaksanaan atau implementasi kurikulum sebagai program. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman sebagai berikut :

1. Apakah implementasi kurikulum yang dilaksanakan oleh guru sesuai dengan program yang direncanakan?

2. Apakah setiap program yang direncanakan dapat dilaksanakan oleh guru?

3. Sejauhmana siswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai?

4. Apakah secara keseluruhan implementasi kurikulum dianggap efektif dan efesien?

D. Implementasi dan Evaluasi Kurikulum

Di dalam pelaksanaan KBK diversifikasi kurikulum sangat dimungkinkan, artinya kurikulum dapat diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan keragaman kondisi dan kebutuhan baik yang menyangkut kemampuan atau potensi siswa dan lingkungannya. Diversifikasi kurikulum diterapkan dalam upaya untuk menampung tingkat kecerdasan dan kecepatan siswa yang tidak sama. Oleh sebab itu akselerasi belajar dimungkinkan untuk diterapkan, begitu pula remidial dan pengayaan.

Implementasi KBK menuntut kemampuan sekolah untuk mengembangkan silabus sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, dan penyusunannya dapat melibatkan instansi yang relevan di daerah setempat, misalnya instansi pemerintah, swasta, perusahaan dan perguruan tingggi.
Pengelolaan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Rekonseptualisasi kurikulum nasional yang diwujudkan dalam Kurikulum Berbasis Kompentensi memiliki empat fokus utama, yaitu: 1). Kejelasan kompetensi dan hasil belajar, 2) Penilian berbasis kelas, 3) Kegiatan belajar Mengajar, 4) Pengelolaan Kurikulum berbasis sekolah.

Pada prinsipnya pengelolaan kurikulum yang berbasis Sekolah membagi peran dan tanggung jawab masing-masing pelaksana pendidikan di lapangan yang terkait dengan pelaksanaan kurikulum, pembiayaan dan pengembangan silabus. Sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum dituntut dapat menjalin hubungan dengan lembaga lain yang terkait baik lembaga pemerintah maupun swasta. Misalnya untuk pembekalan kecakapan vokasional sekolah perlu kerja sama dengan perusahaan atau lembaga diklat.

Reorientasi Proses Pembelajaran
Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman terhadap suatu konsep, sehingga dalam proses pembelajaran siswa merupakan sentral kegiatan, pelaku utama dan guru hanya menciptakan suasana yang dapat mendorong timbulnya motivasi belajar pada siswa.

Implementasi KBK dalam proses pembelajaran menuntut adanya reorientasi pembelajaran yang konvensional. Reorientasi tidak hanya sebatas istilah “teaching” menjadi “learning” namun harus sampai pada operasional pelaksanaan pembelajaran. Untuk itu proses pembelajaran harus mengacu pada beberapa prinsip, yaitu: berpusat pada siswa, belajar dengan melakukan, mengembangakan kemampuan sosial, mengembangkan keingintahuan, imajinasi dan fitrah ber-Tuhan, mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah, mengembangkan kreativitas siswa, mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi, menumbuhkah kesadaran sebagai warga negara yang baik, belajar sepanjang hayat, dan perpaduan kompetisi, kerjasama dan solidaritas.

E. Peranan Evaluasi Kurikulum

Peranan evaluasi kebijaksanan dalam kurikulum pendidikan miimal berkenaan dengan tiga hal, sebagai berikut.
1. Evaluasi sebagai moral judgement
Konsep utama dalam evaluasi adalah masalah niali. Hasil dari evaluasi berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tindakan selanjutnya. Hal ini mengandung dua pengertian, pertama evaluasi berisi suatu skala nilai moral, berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi dapat dinilai. Kedua, Evaluasi berisi suatu perangkat criteria praktis, berdasarkan criteria-krateria tersebut suatu hasil dapat dinilai.


2. Evaluasi dan penentuan keputusan
Pengambil keputusan dalam pelaksanaan pendidikan atau kurikulum banyak, yaitu guru, murid, kepala sekolah, orang tua, para inspektur, pengembang kurikulum, dan sebagainya. Pada prinsipnya tiap individu di atas membuat keputusan sesuai dengan posisinya. Besar atau kecilnya peranan keputusan yang diambil oleh seseorang sesuai dengan lingkup tanggung jawabnya serta masalah yang dihadapinya pada suatu saat.
3. Evaluasi dan consensus nilai
Dalam berbagai situasi pendidikan serta kegiatan pelaksanaan evaluasi kurikulum sejumlah nilai-nilai dibawakan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan penilaian dan evaluasi. Para partisipan dalam evaluasi pendidikan dapat terdiri atas orang tua, murid, guru, pengembang kurikulum, administrator, ahli politik, ahli ekonomi, penerbit, arsitek, dan sebagainya.

KESIMPULAN

Evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan. Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian, karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian.

Pada dasarnya proses evaluasi kurikulum ditunjukan untuk mengevaluasi sejauhmana program-program pembelajaran yang mencakup intrakurikuler, ekstrakurikuler dan ko-kurikuler telah terealisasikan dalam pembelajaran yang dikembangkan guru atau belum. Lebih jauh bahwa output yang dihasilkan dari realisasi program kurikulum dalam bentuk pembelajaran tersebut harus menggambarkan tujuan-tujuan semula yang dirumuskan dalam kurikulum.
Evaluasi kurikulum dalam konteks KBK, pada dasarnya masih belum sempurna terbukti dari penemuan dan inovasi model dan pendekatan evaluasi yang masih perlu dikembangkan lagi, yaitu sistem evaluasi yang betul-betul menempatkan semua pihak secara demokratis baik apda tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi itu sendiri serta penempatan dan pengambilan kebijakan dari hasil suatu kegiatan evaluasi kurikulum.

Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar. Ada banyak masalah dalam penerapan evaluasi kurikulum seperti dasar teori yang digunakan dalam evaluasi kurikulum lemah, intervensi pendidikan yang dilakukan tidak memungkinkan dilakukan blinded, kesulitan dalam melakukan randomisasi, kesulitan dalam menstandarkan intervensi yang dilakukan, masalah etika penelitian, tidak adanya pure outcome, kesulitan mencari alat ukur dan penggunaan perspektif kurikulum yang berbeda sebagai pembanding.

Oleh karena itu dengan memahami pengertian evaluasi kurikulum dan persamaan serta perbedaannya dengan penelitian diharapkan evaluasi kurikulum yang akan dibuat dapat menjadi valid, reliabel dan sangat berguna sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan tentang kurikulum tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan,(2003). Buku II –Kurikulum Program Studi.

http://zulharman79.wordpress.com/2007/08/04/evaluasi-kurikulum-pengertian-kepentingan-dan-masalah-yang-dihadapi/

http://mathedu-unila.blogspot.com/2009/12/peranan-evaluasi-kurikulum.html

Atmadilaga, D., Firdaus A.F. (1994). Membuat dan Mengevaluasi Skripsi, Tesis dan Disertasi Berdasarkan Filsafat Ilmu. Bandung: SIP Press.

Kadarsah, S. dan Ramdhani.(1998). Sistem Pendukung Keputusan. Bandung. Remaja Rosda karya.

Oemar Hamlik, (1998), Evaluasi Kurikulum, Bandung : Mandar Madju.

Suparman, A. dan Purwanto. (1999). Evaluasi Program Diklat. Jakarta: STIA –LAN Press.

Makalah Evaluasi Kurikulum lengkap dapat anda download DISINI

Pemeran:

1. Pak haji Kaya
2. Ibu haji (istri Pak haji kaya)
3. Toyib (Pengamen jalanan)
4. Klowor (Kakak laki-laki Toyib)
5. Slamet (Adik laki-laki Toyib)
6. Ibu Maymunnah (ibu Toyib)
7. Pencuk (teman Toyib ngamen)
8. Moderator

Suatu hari, pak haji dan bu haji sedang berbelanja di sebuah supermarket sepulang dari sebuah bank untuk menyelesaikan suatu urusan bisnis.

Ibu haji : “Pi, apel di rumah masih gak sich?”

Pak Haji : “Kayanya Cuma tinggal 5 kilo deh mi..”

Ibu Haji : “oh iya pi, mami juga mo beli sosis untuk keperluan arisan senin depan!”.

Pak haji : “jagan lupa cukur kumis buat papi mi..!”

Sesampainya di luar supermarket..

Ibu haji : “Pi, mobil kita tadi parkir dimana sich?”

Pak haji : “Gak tau si paimin tadi naruh dimana ya? Coba papi telpon dulu..”

Tiba-tiba muncul Toyib dan Pencuk, 2 pengamen menghampiri merek

Pencuk & Toyib : “aku tak mau..jika aku dimadu..jreng jreng jreng..”. (nyanyi)

Ibu haji : Ini ya nak, jangan lupa ditabung.. (sambil memberikan uang Rp 1.000,00)

Toyib : Makasih Bu.. semoga Allah membalas kebaikan ibu dan bapak.

Pencuk : ngapain sih kamu doain orang pelit kaya gitu (sambil berbisik)

Toyib : lho, gak papa kan? Ini udah rejeki buat kita..

Pencuk : Cuih.. orang kayak ok mngasihnya cuma seribu perak!

Tiba-tiba Pencuk melihat sebuah tas hitam yang ada di dekat kaki pak haji. Muncul pikiran jahat dipikirannya. Secepat kilat Pencuk menyambar tas hitam tersebut.

Pencuk : Cepat lari yib!! (sambil berlari)

Toyib : Eh, jangan Cuk..Jangan!!!

Karena Toyib kebingungan, diapun lari mengikuti jejak si Pencuk.

Pak haji & bu haji : Eh…! Copet… copet!!! (sambil berteriak-teriak)

Orang-orangpun berlarian ikut mengejar kedua pengamen itu. Tapi apalah daya, lari kedua anak tersebut sangat gesit dan liuncah. Merekapun kehilangan jejak kedua pengamen itu.

Sesampainya di bawah jembatan, tempat Toyib dan Pencuk biasa nongkrong. Timbut perseteruan antara dua pengamen. Siapa lagi kalu bukan pencuk dan toyib.

Toyib : hei cuk! Kamu sadar apa yang kau lakukan barusan? Tindakan kamu itu sudah termasuk tindakan kriminal! Kita bias ditangkep sama pak polisi tau!!

Pencuk : Alah.. persetan yib! Yang penting kita bisa makan buat besok. Kalau ada sisa lebihkan kita bisa foya-foya juga. Beli baju, tas, buku dan juga, sapa tau bisa buat beli obat ibumu yang lagi sakit itu!

Toyib : Tapi gak gini caranya cuk! Kita masih bisa cari uang yang halal. Aku gak sudi kalau ibuku minum obat dari uangmu yang haram itu!

Pencuk : hallah! Hari gini kamu masih persoalin halal haram? Liat tu para penguasa, anggota DPR yang kerjaannya cuma tidur, masih juga makan uang rakyat, korupsi! Kalau cuma sekedar tas kaya gini gak masalah.. asal kamu tutup mulut, gak ka nada yang bakalan tau!

Toyib : oh, pandai benar kamu bicara cuk! Pokoknya aku gak mau tau. Kembalikan tas itu sekarang! Atau….

Pencuk : atau apa hah? Atau apa…? Berani kamu sama aku?

Toyib : kurang ajar kau cuk! Kau kira aku gak berani sama kamu? (sambil bersiap untuk meninju muka Pencuk)

Akhirnya kedua pengamen itu berkelahi. Pencuk berusaha meninju muka Toyib. Tapi karena kelihaiannya, toyib pun berhasil menghindar dan membalas dengan meninju muka pencuk bertubi-tubi.

Pencuk : Ampun yib.. ampun….! Aku mengaku kalah… ambillah tas itu. Terserah mau kau apakan. Aku gak mau tau lagi.

Toyib : Dasar pecundang kau! Sekarang cepat kau kembalikan tas itu ke pemiliknya tadi!

Pencuk : Aku gak berani yib.. kau kembalikan saja sendiri. Aku takut ditangkap pak polisi.

Toyib ; Dasar pengecut! Udah berani berbuat, gak brani tanggung jawab. Malu aku jadi temanmu! Mana tasnya? Aku kembalikan saja sendiri.

Pencuk : itu.. itu di situ.. (sambil menunjuk ke tas hitam tadi)

Toyib segera mengambil tas hitam itu. Entah apa isinya, namun toyib merasa agak keberatan membawa tas itu. Segera toyib menuju TKP tadi.

Namun, saat hendak sampai ke TKP, toyib tertegun dan kaget. Rupanya di TKP telah banyak orang dan polisi. Toyib pun bingung dan segera kabur, takut jika dia ketahuan para polisi itu dan dimasukkan ke dalam penjara.

Karena kelelahan yang teramat sangat karena berlarian tadi, di tengah jalan toyib berhenti sejenak untuk beristirahat.

Toyib : ya Allah… untung aku tadi tidak sempat ketahuan. Mati aku kalau sampai polisi-polisi itu menangkapku. Sebenarnya apasih isi tas ini, berat banget, pundakku sampai pegel dibuatnya!

Tanpa pikir panjang Toyib segera membuka tas itu. Tak dapat dibayangkan betapa terkejutnya toyib saat mengetahui isi tas itu. Betumpuk-tumpuk uang kertas yang kira-kira nilainya sampai 200juta dan juga surat-surat penting dengan amplop coklat yang disusun dengan rapi.

Toyib : Astaqfirullah hal azim… banyak sekali uang ini! Pantesan banyak polisi ikut mencari uang ini! Wah, gawat kalau begini.. apa yang harus aku lakukan?

Toyib kemudian melanjutkan perjalanannya, pulang ke rumah. Sesampainya di rumah dia langsung menceritakan semua kejadian itu kepada ibunya.

Maymunnah : Astaqfirullah yib.. mengapa kau tak mencegak si pencuk berbuat seperti itu?

Toyib : Sudah bu… tapi dia tetep nekat.

Maymunnah : Untung Allah masih melindungimu yib.. apa jadinya kalau kalian tertangkap polisi? Ibu ini sudah tua yib..sudah sakit-sakitan, janganlah kalian membuat sedih ibu.

Toyib : maafkan toyib bu.. toyib gak bermaksud membuat ibu susah. Sekarang apa yang harus toyib perbuat bu? Toyib sangat takut jika bapak dan ibu yang tadi tidak terima dan melaporkan toyib ke polisi bu.

Maymunnah ; kembalikanlah yib.. mereka pasti sangat kehilangan uang-uang itu. Cobalah cari, siapa tau di dalam tas itu ada alamat pemiliknya. Cobalah berkata jujur. Percayalah, orang jujur pasti akan dilindungi oleh Allah.

Toyib : iya bu, toyib akan segera melaksanakan perintah ibu..

Toyib segera mengambiltas hitam itu. Dibuka, dan dicari-carinya alamat pemiliknya. Ternyata ada. Di sebuah amplop ada nama terang dan alamat bapak Haji Niko Raharjo. Toyib segera mengenal daerah itu karena dia sering lewat sana. Tetapi saat hendak keluar dari rumah, toyib bertemu dengan kedua saudaranya, slamet dan klowor, yang sedang nongkrong-nongkrong di depan rumah.

Klowor : hey adikku yang cakep, aku mendengar percakapanmu dengan ibu tadi. Rupanya kau habis dapet rejeki nomplok ya..? (sambil merangkul pundak toyib)

Slamet : iya, bagi-bagilah dengan kita-kita.. jangan dimakan sendiri!

Toyib : tapi ini bukan punyaku. Ibu menyuruhku untuk mengembalikannya.

Klowor : alah, ngapain dikembalikan? Itu udah jadi punya kita. Kan udah di tangan kita.

Slamet : kapan lagi kita punya uang sebanyak itu, ya kan mas? Kita bisa foya-foya sepuasnya dengan uang itu.. hahahaha!

Toyib : tidak bisa mas, aku akan mengembalikannya!

Slamet : hey..hey… kok berani kamu sama kita! Belum pernah dihajar ya?

Klowor : sabar met, sapa tau dia masih bisa kita bilangin. Hey yib, tahukah kau nasib kita sekarang ini? Dengan uang itu, kita bisa ubah semuanya. Nanti, kamu gak perlu ngamen lagi.. bisa sekolah lagi. Dan kamu tau tidak? Biaya pengobatan ibu itu tidak sedikit, nanti bisa kita bawa ibu ke rumah sakit biar cepat sembuh. Betul tidak?

Toyib : tidak mas, aku gak mau pakai uang haram itu. Uang haram itu tidak barokah!

Slamet : rupanya dia tidak bisa kita bilangin mas. Mending kita ambil aja uang itu. Kita beli lagi 2 botol.. udah hamper habis nih! (sambil berusaha merebut tas yang ada di tangan toyib).

Toyib : Tidak!!!

Toyib pun segera berlari meninggalkann rumah menuju alamat rumah yang tertera pada amplop yang ada dalam tas itu.

Sementara di rumah pak haji..

Pak haji : aduh mi, kenepa sih tas itu sampai bisa di jambret? Apa gak mami pegangi tadi?

Bu haji ; gimana mau mami pegang? Mami kan baru buka dompet buat ngasih pengamen itu tadi!

Pak haji : gimana ini mi? dalam tas itu kan banyak surat-surat penting perusahaan kita! Dan juga surat wasiat dari kakek juga ada di situ. Uangnyua sih gak begitu penting buat papi, bisa kita cari lagi..

Bu haji : yaudahlah pi… kita sabar aja nunggu kabar dari kepolisian. Sekarang kita berdoa saja. Yuk, sekarang kita shalat dulu.. jangan kita lalai sholat cuma gara-gara urusan dunia.

Pak haji : iya mi, ayo kita shalat. Nanti papi dipijitin ya mi.. sampe pegel-pegel nie papi mikirin masalah ini..

Bu haji : iya pi, nanti mami kasih pijitan plus-plus….hihihihihi!

Tiba-tiba dari luar terdengar suara pintu di ketok-ketok…

Toyib : assalamu’alaikum… permisi…

Bu haji segera ke depan untuk membukakan pintu.

Bu haji : wa’alaikum salam… siapa?

Toyib : Toyib bu…

Saat membuka pintu, betapa terkejutnya bu haji melihat toyib…

Bu haji : eh, kamu… kamu kan pengamen yang njambret tas saya tadi? Papi..papi!!!! ini malingnya tadi……..!!! (sambil teriak-teriak)

Pak haji pun dadi dalam rumah terkejut mendengar teriakan istrinya dan segera berlari menghampirinya.

Pak haji : ada apa mi? mana? Mana malingnya???

Bu haji : ini pi.. ini malingnya tadi.. (sambil menunjuk ke arah toyib)

Toyib pun kebingungan dan ketakutan..

Toyib : maaf nyonya.. maaf tuan… saya di sini cuma mau mengembalikan tas ini. Ta..tadi bukan saya yang mengambilnya, tapi teman saya. Tolong maafkan saya pak..bu… jangan penjarakan saya. Ibu saya masih sakit di rumah… (sambil ketakutan)

Pak haji segera mebuka tasnya dan segera memerikasa isinya.

Pak haji ; masih utuh mi..

Bu haji : masa’ sih pi? Coba di cek lagi!

Pak haji : iya masih utuh mi.. uang-uangnya juga.

Bu haji ; apa maksudmu nak? Mengapa kamu berani sekali ke sini! Gak takut masuk penjara kamu?

Toyib : ampun.. ampun bu… saya tadi benar-benar tidak bermaksud mengambil uang ibu. Tadi tas ini saya rebut dari tangan teman saya. Kata ibu saya, uang ini harus di kembalikan.. tolong jangan penjarakan saya pak.. bu...

Pak haji : sudah lah bu.. kejujuran dan keberanian anak ini harus kita hargai. Dia rela ke sini sendiri untuk mengembalikan uang kita sudah suatu sifat nulia yang luar biasa bu. Sudah lah nak, kamu gak perlu taku lagi. Sekarang kemarilah masuk ke dalam. Coba kau ceritakan lagi kejadian tadi siang. Apa kamu sudah makan malam nak? Mari masuk sambil makan malam..(sambil merangkul pundak toyib)

Toyib : iya pak.. terimakasih banyak…


Untuk versi MS Word bisa di download DISINI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemampuan seseorang dalam memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda-beda tingkatannya. Ada yang cepat, sedang, ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, mereka seringkali harus menepuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajarang yang sama. Fenomena tersebut menjelaskan bahwa tidak semuaorang mempunyai gaya belajar yang sama. Termasuk apabila mereka bersekolah di sekolah yang sama atau bahkan duduk di kelas yang sama.

Apapun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajarsetiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.[1]

Salah satu karakteristik siswa adalah gaya kognitif. Gaya kognitif merupakan cara siswa yang khas dalam belajar, baik yang berkaitan dengan cara penerimaan dan pengolahan informasi, sikap terhadap informasi, maupun kebiasaan yang berhubungan dengan lingkungan belajar.

Di sini kami akan membahas gaya kognitif dalam pembelajaran yang merupakan salah satu variabel kondisi belajar yang menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran. Pengetahuan tentang gaya kognitif dalam pembelajaran dibutuhkan untuk merancang atau memodifikasi meteri pembelajaran, tujuan pembelajaran, serta metode pembelajaran. Diharapkan dengan adanya interaksi dari faktor gaya kognirif , tujuan, materi, serta metode pembelajaran, hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Awal Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif

1. Teory Belajar Gestalst

Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teory belajar Gestalt. Peletak dasar psikologi Gestalt adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Wertheimer (1945) menjadi seorang Gestaltis yang mula-mula menghubungkan pekerjaannya dengan proses belajar di kelas. Dari pengamatannya itu, ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis.

Menurut pandangan Gestalt, semua kegiatan belajar menggunakan instinght atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan terutama hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Menurut psikologi Gestalt, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukum dan ganjaran.

2. Teory Belajar Cognitive-Field dari Lewin

Bertolak dari penemuan Gestalt Psychology, Kurn Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar cognitivefield dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan jiwa, maupun dari luar individu seperti tantangan dan permasalahan.

Menurur Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam unsur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan yang lebih penting dari pada motivasi dari reward.[2]

3. Teory Belajar Cognitive Developmental dari Piaget

Dalam teorinya, Piaget memndang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari kongkret menuju abstak. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli Biologi menekankan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan, maka Piaget tekanan penyelidikan lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian/adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.[3]

2. Beberapa Definisi Gaya Pembelajaran

Setiap individu memiliki gaya pembelajaran yang berbeda. Demikian juga,para pendidik memiliki pandangan yang berbeda tentang gaya pembelajaran yang didiskusikan.
Menurut Dunn (1980), gaya pembelajaran adalah cara seseorang pelajar memproses serta mempertahankan informasi baru. Gaya pembelajaran tergantung ke fitur biologi dan perkembangan kepribadian seseorang dan ia dipengaruhi oleh lingkungan, emosi, pengaruh sosial serta perasaan individu. Akibatnya, sesuatu pengajaran dapat efektif bagi seorang mahasiswa namun tidak efektif bagi siswa yang lain karena gaya pembelajaran mereka berbeda.
Renzulli and Smith (1978) mendefinisikan gaya pembelajaran sebagai satu bidang strategi pengajaran yang mana siswa mencoba menuntut pembelajaran. Mereka berpendapat bahwa siswa dapat belajar dengan lebih efektif jika pengajaran guru sejalan dengan gaya pembelajaran pelajar. Dengan ini, penyesuaian dalam pengajaran perlu dilakukan untuk melayani gaya pembelajaran pelajar.


Kolb (1985) dapat menggambarkan empat model pembelajaran yang dasar hasil dari kombinasi pengalaman siswa dan kebutuhan lingkungan. Ia berpendapat bahwa dalam proses pembelajaran, semua siswa yang efektif perlu mampu segi pengalaman beton (concrete experience), pengamatan reflektif (Reflective jenis), konseptualisasi abstrak (abstract conceptualization) dan eksperimentasi aktif (active experimentation).

Keefe (1987) berpendapat bahwa gaya pembelajaran mencakup tiga aspek, yaitu kognitif, afektif dan kejiwaan. Gaya kognitif melibatkan pememprosesan informasi, gaya afektif melibatkan reaksi yang berdasarkan motivasi sedangkan gaya kejiwaan bersifat tabiat yang berhubungan dengan unsur-unsur seks, kesehatan dan lingkungan. Ia mendefinisikan pembelajaran sebagai satu proses internal dan berpendapat bahwa pembelajaran hanya berlaku apabila ada perubahan tabiat baik secara permanen atau sementara bagi seseorang individu.

Satu tim bertugas yang dianjurkan oleh National Association of Secondary School Principals dan terdiri dari pakar teori dalam bidang gaya pembelajaran telah mendefinisikan gaya pembelajaran sebagai satu komposit faktor-faktor bersifat kognitif, afektif dan psikologi yang berfungsi sebagai petanda-petanda stabil pada cara mana seorang pelajar membuat persepsi, berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan pembelajarannya. Berdasarkan Tim ini, gaya pembelajaran juga mencakup gaya kognitif yaitu cara intrinsic pengolahan informasi yang mewakili modus membuat persepsi, pemikiran, pemecahan masalah dan cara mengingat kembali seseorang individu itu (Griggs, S.A., 1991).[4]

3. Teori Belajar Kognitif

Ahli psikologi berpendapat bahwa prinsip teori tingkah laku hanya memberikan bagian dari pertanyaan tentang bagaimana kita belajar. Contoh, bagian tingkah laku yang paling baik kita ingat ialah kejadian-kejadian yang praktis dan sering kontradiksi dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita mempunyai seorang teman yang mempunyai telepon dan setiap kita ingin menelpon, kita akan melihat nomor telepon teman kita. Walaupun kita sering memutar nomor teleponnya dan menikmati percakapan dengan dia, kita tidak belajar nomor telepon teman kita. Kita mungkin mengingat sesuatu yang lucu atau mengingat suatu percakapan yang hanya terjadi sekali dan tidak dipraktikkan.jadi, belajar tidak hanya mempraktikkan dan mendapat hadiah, tetapi lebih dari itu.

Ahli-ahli teori kognitif berpendapat bahwa belajar adalah hasil dari usaha kita untuk dapat mengerti dunia. Untuk melakukan ini, kita menggunakan semua alat mental kita. Caranya, kita berpikir tentang situasi, sama baiknya kita berpikir tentang kepercayaan, harapan, dan perasaan kita yang akan mempengaruhi bagaimana dan apa yang akan kita pelajari. Dua siswa mungkin akan ada dalam kelas yang sama, tetapi belajar dua pelajaran yang berbeda. Apa yang dipelajari setiap siswa tergantung pada apa yang diketahui dari masing-masing siswa dan bagaimana informasi baru diproses.

Tetapi, walaupun banyak perspektif belajar kognitif, hanya ada dua kategori penting, yaitu pertama information processing approach (pendekatan proses informasi) yang mempercayakan terutama komputer sebagai model untuk belajar dan untuk ingatan manusia.[5]

4. Implikasi Teori Kognitif Dalam Pendidikan

Ada sejumlah cara untuk menggunakan model belajar kognitif dalam kelas. Petama, kita akan melihat strategi mengajar pada umumnya, terutama yang menyangkut rencana pelajaran. Kemudian, kita akan memusatkan perhatian untuk membantu siswa dalam mengingat informasi baru.

a. Strategi Mengajar

Guru-guru dapat membantu siswa untuk menaruh perhian pada pelajaran. Ini penting untuk mengidentifikasi apa yang penting, sulit, atau sesuatu yang belum dikenal, membangkitkan kembali informasi yang telah dipelajari, dan memahami metode baru dengan menghubungkan materi itu dengan informasi yang telah ada dalam ingatan jangka panjang.

1. Memusatkan Perhatian

Banyak faktor yang mempengaruhi perhatian siswa. Dalam permulaan pelajaran, guru dapat membuat kontak mata atau berbuat sesuatu yang mengejutkan siswa dengan maksud untuk menarik perhatian siswa. Siswa akan belajar lebih banyak karena guru dalam menyampaikan mata pelajaran sangat menarik dan mengasyikkan.

2. Mengidentifikasi Apa yang Penting, Sulit, dan Tidak Biasa

Siwa sering memperhatikan dan belajar keras, tetapi mereka memusatkan pada metode yang salah. Mereka mungkin menghabiskan waktu belajar mereka dengan hal-hal jyang tidak penting dan kehilangan pokok-pokok yang penting. Mereka mungkin berkonsentrasi pada materi yang telah mereka ketahui dan menghindari mengerjakan tugas-tugas yang sulit atau kurang dikenal. Beberapa siswa ada yang lebih baik dari yang lain dalam mempertimbangkan pelajaran mana yang penting setelah mereka betul-betul mengerti ide yang disampaikan guru.

3. Belajar Dapat Dipertinggi Jika Guru Membantu Siswa Mearasa Betapa Pentingnya Informasi Baru

Satu strategi untuk melakukan ini adalah membuat tujuan pelajaran sejelas mungkin. Jika siswa-siswa tahu apa yang diharapkan dari mereka untuk melakukan sesuatu dengan informasi, mereka akan lebih dapat memusatkan perhatian pada hal-hal yang penting.

Dalam penyampaian pelajaran lisan, guru dapat memperjelas persamaan dan perbedaan ide-ide yang disampaikan dan memberikan contoh yang berbeda dari konsep-konsep yang diajarkan. Jika suatu ide baru membuat siswa bingung, guru harus memberikan contoh dengan perbedaan yang ada. Bagian pelajaran yang sulit harus diberikan ekstra perhatian.

4. Membantu Siswa Mengingat Kembali Informasi Yang Telah Dipelajari Sebelumnya

Ahli-ahli teori kognitif berpendapat bahwa belajar adalah suatu integrasi atau gabungan antara informasi baru dan struktur kognitif yag ada. Sebelum integrasi dibuat, siswa harus dapat mengingat kembali informasi yang telah mereka ketahui. Belajar sebelumnya mungkin dalam bentuk konsep, definisi, dan hukum-hukum. Ketika siswa harus menguasai informasi baru, konsep, definisi, dan hukum-hukum ini sudah harus dikuasai.

Strategi untuk membantu siswa mengingat kembali pelajaran yang sudah diberikan dapat berupa meninjau kembali secara singkat pelajaran yang sudah diberikan, atau mendiskusikan kata-kata kunci dalam pelajaran kosakata.

5. Membantu Siswa Memahami Dan Menggabungkan Informasi

Mungkin satu-satunya metode terbaik untuk membantu siswa memahami pelajaran dan mengombinasikan informasi yang telah ada denga informasi baru adalah membuat pelajaran sedapat mungkin bermakna (meaningfuul). Pelajaran yang berarti itu sendiri artinya bukan suatu perubahan, dan pelajaran itu selalu berhungan dengan informasi atau konsep siswa yang telah ada. Pelajaran yang berarti disampaikan dalam perbendaharaan kata yang dapat dimengerti oleh siswa. Istilah baru dijelaskan melalui penggunaan kata dan ide-ide yang sudah dikenal. Pelajaran yang berarti umumnya teorganisasi dengan baik dan dengan jelas menghubungkan diantara unsur-unsur pelajaran yang berbeda. Akhirnya, pelajaran yang bermakna membuat wajarpenggunaan informasi-informasi yang sudah ada untuk membantu siswa mengerti informasi baru dengan memberikan contoh atau analogi.[6]

b. Strategi Untuk Membantu Siswa Mengingat

Lindsay dan Norman (987) menyampaikan tiga aturan umum untuk memperbaiki ingatan. Pertama, menghafal memerlukan usaha; ini sering tidaj mudah. Kedua, materi yang harus dihafal atau diingat seharusnya berhubungan dengan hal-hal lain. Menguraikan dengan kata-kata sendiri dan menggambarkan dalam khayalan mungkin dapat membantu. Ketiga, menghafal atau mengingat memerlukan organisasi. Materi dapat dibagi dalam kelopok atau bagian-bagian kecil dan kemudian diletakkan kembali bersama-sama dalam pola yang berarti. Siswa seharusnya juga mencari struktur dalam materi itu sendiri dan gunakan bantuan mnemonic (suatu metode untuk mengingat yang menekankan atau membentuk stuktur bagi hal-hal atau benda-benda yang perlu diingat sehingga mempermudah mengingat kembali) jika diperlukan.

Diantara beberapa sistem mnemonic yang berguna adalah Peg-Type Mnemonic, Chain-Type Method, The Keyword Method, dan Chunkin.

1. Peg-Type Mnemonic

Metode Peg-Type mengharuskan kita mengingat daftar tempat atau kata-kata yang sudah terstandar. Kemudian kapan saja kita belajar suatu daftar item-item, kita dapat menggabungkan dengan informasi-informasi item-item ini dengan peg yang telah ada dalam ingtan anda.

Jika kita tahu kata-kata peg, daftar item mbaru yang dipelajari dapat dihubungkan dengan kata-kata ini melalui suatu kesan atau bayangan. Contoh, jika kita harus berhenti di kantor bank, kantor pos, dan toko makanan dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Kita membayangkan dapat melihat uang yang diisiukan ke dalam sepasang sepatu (shoes). Kemudian, kita memimpikan surat-surat tergantung seperti daun di pohon (tree). Akhirnya, kita mungkin membayangkan menabrak pintu (door) dengan kereta belanja.

2. Chain-Type Method

Chain-type mnemonic berhubungan dengan item pertama untuk diingat dengan yang kedua, yang kedua dengan ketiga, yang ketiga dengan yang keempat, dan seterusnya. Contoh, dengan sistem mata rantai (linking system), setiap item pada satu daftar mata rantai pada item berikutnya melalui beberapa hubungan visual. Jika kita berhenti di kantor bank, kantor pos, dan toko makanan, kita mungkin membayangkan uang yang dimasukkan dalam surat. Kemudian, kita membayangkan surat-surat dimasukkan dalam dompet. Dalam setiap kasus, satu visual mengantarkan kita untuk proses berikutnya.

3. The Keyword Method (metode kata penting atau kata kunci)

Pendekatan ini mempunyai dua tahap. Pertama, kita harus mengidentifikasi kata bahasa Indonesia yang paling disukai sebagai kata benda yang kongkret. Selanjutnya, kita hubungkan arti dalam bahasa inggris (atau bahasa asing lainnya) dengan kata-kata bahasa Indonesia yang dipilih melalui kesan atau kalimat. Contoh, kata bahasa inggris, cart (artinya kereta), suaranya seperti bahasa Indonesia kata karat. Karat menjadi kata kunci dan kita bayangkan “kereta kuno itu dibersihkan karena ada bagian yang sudah berkarat”.

Pada umumnya, tekhnik-tekhnik yang menggunakan kesan atau bayangan lebih tepat untuk siswa-siswa SD dan SMP, karena mereka masih mempunyai kesulitan membentuk kesan atau bayangannya sendiri.

4. Chunking

Mnemonic terakhir adalah chunking. Jika kita memang mengingat 6 digit 3, 5, 4, 8, 7, dan 0 kita akan mengalami kesulitan. Tetapi hal itu bisa dipermudah dengan meletakkan dua atau tiga digit ke dalam dua atau tiga chunk. Misalnya menjadi 35, 48, 70, atau 354, 870. Dengan cara ini 2 atau 3 informasi akan kita ingat dalam waktu pendek.[7]

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teory belajar Gestalt. Menurut pandangan Gestalt, semua kegiatan belajar menggunakan instinght atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan terutama hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan

Teori-teori belajar kognitif mulai berkembang dari teori belajar Gestalt, teori belajar Cognitive-Field dari Lewin, dan teori belajar Cognitive Developmental dari Piaget. Tetapi, walaupun banyak perspektif belajar kognitif, hanya ada dua kategori penting, yaitu pertama information processing approach (pendekatan proses informasi) yang mempercayakan terutama komputer sebagai model untuk belajar dan untuk ingatan manusia.

Ada sejumlah strategi untuk menggunakan model belajar kognitif dalam kelas. Yang pertama memusatkan perhatian pada siswa, mengidentifikasi apa yang lebih penting, sulit, dan tidak biasa, belajar dapat dipertinggi jika guru membantu siswa merasa betapa pentingnya informasi baru, membantu siswa mengingat kembali informasi yang telah dipelajari sebelumnya, membantu siswa memahami dan menggabungkan informasi.

Diantara beberapa sistem mnemonci (suatu metode untuk mengingat yang menekankan atau membentuk stuktur bagi hal-hal atau benda-benda yang perlu diingat sehingga mempermudah mengingat kembali) yang berguna adalah Peg-Type Mnemonic, Chain-Type Method, The Keyword Method, dan Chunkin.

DAFTAR ISI

B. Uno, Hamzah, Dr. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Soemanto, Wasty, M.Pd. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipata

Wuryani, Esti. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo

http://apps.emoe.gov.my/ipba/rdipba/cd1/article97.pdf (12 Mei 2010)

[1] B. Uno, Hamzah, Dr. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. 2006. hal: 180

[2] Soemanto, Wasty, M.Pd. Psikologi Pendidikan. Hal: 128-129

[3] Soemanto, Wasty, M.Pd. Psikologi Pendidikan. Hal: 130

[4] http://apps.emoe.gov.my/ipba/rdipba/cd1/article97.pdf (12 Mei 2010)

[5] Wuryani, Esti. Psikologi Pendidikan. 2006. hal: 148-150

[6] Wuryani, Esti. Psikologi Pendidikan. 2006. hal: 158-162

[7] Wuryani, Esti. Psikologi Pendidikan. 2006. hal: 164-167

Makalah lengkap dapat anda download DISINI